pemikiran al afghani dan abduh

  
PEMIKIRAN SAID JAMALUDDIN AL AFGHANI DAN MUHAMMAD ABDUH 

BAB I PENDAHULUAN 

Munculnya era baru pemikiran dalam Islam adalah karena selama lebih dari 6 abad kaum Muslimin kehilangan daya dan diinjak-injak kaum imperialais Barat. Kita dapat mengetahui bahwa munculnya para tokoh-tokoh pembaharuan tersebut muncul adalah dengan menekankan pada masalah persatuan umat Islam. Karena untuk menentang kolonialis pada masanya, dimana pada saat itu bangsa Barat telah merongrong dan merusak persatuan umat Islam dengan usahanya memecahbelah persatuan umat Islam, menguasai dan memperluas daerah-daerah jajahannya termasuk negara-negara Islam. Salah satu negara kolonialis yang berjaya pada masa tersebut yaitu Inggris, adalah negara yang paling handal diantara seluruh bangsa kolonial lainnya. Mereka telah mempelajari seluk-beluk kehidupan umat Islam di Iran, Turki, di negara-negara Arab dan anak benua India. Dengan demikian, mereka lebih mengetahui trik-trik yang paling jitu untuk mengadu-domba kelompok-kelompok umat Islam pada saat itu, seperti Sunni dan Syiah. Mereka sangat profesional dalam hal ini. Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, propaganda kaum kolonialis kian meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, mengingat Iran berhasil menggapai keberhasilan di berbagai bidang, keberhasilan tersebut dinilai sebagai manifestasi kebangkitan dunia Islam. Fenomena ini pula yang kian memotivasi kaum kolonialis bekerjasama meningkatkan propaganda mereka dalam memecah barisan umat Islam pada saat itu, dan sampai sekarangpun usaha-usaha mereka untuk memecah belah dan merusak kemurnian dan kesatuan umat Islam masih terasa. Walaupun tidak seperti usaha-usaha mereka terdahulu, bahkan malah lebih berbahaya, mereka kini cenderung memecah belah umat Islam dari dalam tubuh umat Islam itu sendiri.Selain karena agresi dari Barat, kemunduran umat Islam juga disebabkan karena kemunduran umat Islam sendiri, karena telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Menurut Muhammad Abduh sebab kemunduran tersebut antara lain : faham jumud (keadaan membeku, statis, tak ada perubahan) yang terdapat pada kaum Islam, yang tidak menghendaki perubahan dan tidak mau menerima perubahan dan berpegang teguh kepada tradisi. Sehingga membekulah akal. Sebab kemunduran yang bersifat politis ialah perpecahan antar umat Islam dan lemahnya rasa persaudaraan Islam. (Harun Nasution, 1991 : 55).Sadar dengan keterbelakangan dan ketertinggalan peradabannya, mereka mulai insaf dengan kelemahannya selama ini. Sehingga muncul dan bangkitlah beberapa pemikir dan pemimpin di kalangan umat Islam. Selain itu terbukalah pintu ijtihad, Pan Islamisme, kesadaran beragama dan berbangsa, serta filsafat mulai dirasa perlu dipelajari oleh kaum Muslimin sendiri. Orang Muslim boleh mengambil manfaat dari ilmu orang-orang Eropa selama tidak melanggar Al Qur’an dan As Sunah. Usaha positif tersebut tumbuh berangsur-angsur dalam diri umat Islam. Kesadaran inilah awal dari Era Baru Pemikiran Islam. Muncullah tokoh-tokoh pembaharuan dalam Islam dimana masa pembaharuan tersebut terbagi dalam 2 masa, yaitu : 

1)       Masa Pembaharuan Klasik

Yaitu masa pembaharuan dalam Islam dimana pemikiran pada masa ulama-ulama, seperti : Muhammad bin Abdul Wahab dan Ibnu Taimiyah, dalam ajaran pemikirannya masih menggunakan pemikiran secara klasik/ tradisional dengan ajarannya adalah untuk pemurnian/ purifikasi kembali terhadap ajaran-ajaran Islam tersebut, serta mereka melarang dan menentang pola pemikiran dengan filsafat/ menolak akal.

2)       Masa Pembaharuan Modern/ Kontemporer

Yaitu masa pembaharuan dalam Islam dimana ulama-ulama pada masa tersebut, seperti : Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh, dalam ajaran pemikirannya selain menggunakan pola pemikiran klasik, mereka juga mulai berani menggunakan pola pemikiran filsafat dan menerima akal logika dalam pemikirannya. Sehingga tak salah mereka sering disebut sebagai peletak dasar pemikiran modern dalam Islam karena mereka berani ’menentang’ pemikiran klasik yang telah ada sebelumnya. Dengan kemajuan berfikir dalam berbagai bidang seperti politik dan sosial budaya pada diri umat Islam, akan membawa kemajuan berfikir dalam bidang filsafat pula. Sehingga akan membuka cakrawala berfikir baru dalam Islam. (Muhammad Al Bahiy, 1986 : 107).                          

BAB II

ISI A. Jamaluddin Al-Afghani1.

Riwayat Hidup

Jamaluddin bin Shaftar Al Afghani Asadabad, 1839, silsilah keturunannya bersambung kepada ahli hadits Imam Turmudzi dan seterusnya kepada Husain bin Ali bin Abi Tholib, sehingga beliau biasa memakai Said di pangkal namanya. Tahun kelahirannya bertepatan dengan masuknya Inggris ke Afghanistan, maka tidak heran nantinya rasa benci kepada Inggris sangat lekat pada hatinya. Semenjak kecil beliau telah belajar Al Qur’an, bahasa arab, tata bahasanya dan kesusastraannya, tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, dll. di desanya. Pada masa mudanya beliau dididik di Iran, dan juga di kota-kota suci Syi’ah di Irak beliau piawai dalam filsafat Islam dan juga dalam Syi’ah mazhab Syaikhi, yang merupakan ragam Syi’ah yang sangat filosofis pada abad 18 dan 19. Dimana tak seperti dunia Arab dan Turki, di mana kebanyakan filsafat yang mendapat inspirasinya dari Yunani selama berabad-abad tidak diajarkan karena dianggap menyimpang dari Islam, di Iran tradisi filsafat terus berlangsung.Setelah matang melanjutkan ke India beliau mempelajari ilmu pasti, ilmu alam dan ilmu-ilmu lain menurut sistem pelajaran Eropa modern. Selama setahun lebih di India, amat terasa baginya bagaimana nasib bangsa yang dijajah oleh Inggris. Kembali dari India, beliau menunaikan ibadah haji (18 tahun), dan pada saat itu pulalah India mulai bergerak menentang Inggris yang semena-mena.Kemudian ke Afghanistan, memasuki arena politik dengan pandangan politiknya yang jauh ke depan dan pemikiran-pemikiran yang progresif dalam membela Islam, menyebabkannya dibenci oleh penguasa yang pada saat itu telah dipengaruhi oleh Inggris : Syir Ali Khan ’menjatuhkan’ Azham Khan. Karena negerinya tidak mengizinkan bagi perjuangannya, beliau kembali naik haji dengan melewati India. Karena terus diawasi Inggris, terus ke Mesir. Dan ketika di Mesir pada 1870-an, beliau mengajar murid-murid mudanya terutama tentang filosofi-filosofi Iran ini. ± 40 hari di sana beliau bertemu dengan Muhammad Abduh yang merupakan murid sekaligus shahabat dalam perjuangannya selanjutnya. Kemudian ke Turki. Pada 1870, Afghani diangkat menjadi menjadi Dewan Pendidikan Utsmaniah resmi yang reformis. Karena ikatannya dengan berbagai ahli pendidikan terkemuka, beliau diundang untuk menyampaikan kuliah umum. Namun, kuliah umum ini menimbulkan reaksi yang keras dari para ulama, karena dianggap menyimpang dari agama. Akibatnya Afghani diusir dari Istanbul.karena pandangan-pandangannya disertai pemikiran-pemikiran filsafat dan filosofi Islam (yang pada saat itu masih dianggap haram) maka dalam perjalannya selalu mendapat tantangan dari ulama yang belum mengenal filsafat. Di Mesirlah beliau merasa yang paling pantas menerima cita-citanya. Sehingga beliau sempat membentangkan cita-citanya dan membina kader-kadernya, seperti : Muhammad Abduh, Sa’ad Zaglul, Luthfi As Sayid, dll. Beliau mulai mendengungkan kebangkitan kembali dunia Islam, membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan melepaskan diri dari kebodohan. Di Kairo ini pula beliau mendirikan koran yang membahas isu-isu politik. Karena rasa cemburu orang yang berkuasa terhadap kecermelangan Al Afghani dan seiring dengan perubahan kekuasaan di Mesir, di bawah Pemerintahan yang Pro Inggris, Taufiq, Afghani akhirnya diusir dari Mesir karena sikapnya yang anti Inggris. Kemudian Afghani pergi ke Hyderabad di India Selatan. Tetapi tidak lama sepeninggalnya dari Mesir, benih yang telah disemaikannya di Mesir, hiduplah. Sehingga pada 1881 terjadilah pemberontakan, seperti pemberontakan Orabi Pasya dan pemberontakan Iskandariah.Dari India, ke Paris diikuti M. Abduh, mereka menerbitkan Al Urwah Al Wutsqo. Walaupun berumur pendek, terbit hanya 18 nomor, namun cukup memberikan semangat bagi dunia Islam. Kemudian muncul tawaran untuk menetap di Iran pada 1882, kemudian ke Munchen, dan mendapat tawaran lagi oleh Iran dengan penuh harapan. Tapi karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kesewenang-wenangan Syah, beliau mendapat perlakuan yang kurang ajar dari kaki tangannya. Meninggalkan Iran ke Basrah, ke London, dan ke Turki atas permintaan Sultan Abdul Hamid. Di Turki inilah Al Afghani menghabiskan usianya setelah menderita kanker, dikebumikan di Maqbarothul Masyaikh (kuburan para ulama) Istanbul 5 Syawal 1314 H (9 Maret 1897). Pada 1944 tulang belulangnya dipindah oleh pemerintahan Afghanistan ke kota Kabul dengan upacara kebesaran. (Muhammad Al Bahiy, 1986 : 105 – 117).Said Jamaluddin Al Afghani (1838/9 – 1897) merupakan salah satu tokoh yang pertama kali menyatakan kembali sebagai modernis Islam yang pertama kali menyatakan kembali tradisi Muslim dengan cara yang sesuai untuk menjawab berbagai problem penting yang muncul akibat Barat semakin mengusik Timur Tengah di abad 19 yang pengaruhnya dapat dirasakan dibeberapa Negara. Afghani memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan Westernisme. Dalam hidupnya beliau mempromosikan berbagai sudut pandang yang sering bertentangan, seperti mengajarkan filsafat yang kebanyakan mendapat inspirasinya dari Yunani selama berabad-abad tidak diajarkan karena dianggap menyimpang dari Islam. Beliau piawai dalam filsafat Islam yang beliau ajari saat di iran, dan juga syiah madzhab Syaikhi yang merupakan ragam syiah yang sangat filosofis pada abad 18 dan 19. Dan pikirannya juga memiliki afinitas dengan berbagai kecenderungan di dunia Muslim. Ini meliputi Liberalisme Islam yang diserukan khususnya oleh Muhammad Abduh, serta Ikhwanul Muslimin lainnya.Antara keperibadian-keperibadian yang beliau miliki antara lain :       Mencintai ilmu pengetahuan;        Mempunyai akal pikiran yang cerdas, tajam, dan berpandangan jauh;        Memiliki semangat jihad yang tinggi;        Berusaha mencorakkan pemikiran masyarakat Islam kepada kemajuan dan bebas dari kolonilisme penjajah;        Mempunyai kewibawaan dan kebolehan sebagai seorang pemimpin;        Rajin berdakwah dalam meniupkan semangat perjuangan dalam kalangan masyarakat Islam;        Giat dalam arena penulisan dengan menyalurkan ide-ide untuk menyadarkan rakyat ke arah kemajuan dan pembangunan;        Tidak bosan menjelajah ke semua tempat untuk mencari ilmu pengetahuan di samping berdakwah untuk membetulkan kefahaman ajaran Islam yang sebenarnya.        (http://ms.wikipedia.org/wiki/Sayid_Jamaluddin_al-Afghani#Riwayat_Hidup_Sayid_Jamaluddin_al-Afghani) 

2. Arah Perjuangan

Said Jamaluddin Afghani (sebagai seorang filsuf, penulis, pemidato, wartawan dan aktivis politik serta banyak melakukan perjalanan sejak dari Afghanistan sampai ke Eropa), beliau bergaul dengan kaum Muslimin untuk menghidupkan kesadaran akan kekuatan mereka yang potensial. Penekanannya bahwa Islam merupakan kekuatan yang sangat penting dan potensial untuk menangkal kolonialisme Barat dan untuk meningkatkan solidaritas kaum Muslim. Seruannya agar ada pembaruan dan perubahan di dalam sistem politik Despotis yang berbendera Islam, serta serangannya terhadap mereka yang memihak Imperialisme Barat atau yang memecah belah umat Muslim, semuanya merupakan tema-tema yang diperjuangkannya.   (http://abatasya.net/tokoh-islam/tokoh-islam-dunia/jamaluddin-al-afghani.html).Prioritas yang ada pada Said Jamaluddin Al Afghani ialah membangunkan  umat, dan menggerakannya untuk mengusir penjajah yang merupakan bahaya bagi kehidupan umat Islam dan dunianya. Disamping itu, beliau menyadarkan mereka bahwa umat Islam adalah satu, memiliki kiblat, aqidah, arah dan tujuan hidup yang satu pula. Beliaulah bapak dari Nasionalisme Islam Modern, pencetus gagasan Pan-Islamisme dan penganjur utama gerakan pembaharuan dalam Islam. Beliaulah yang menyebarkan hampir seluruh sikap dan tema yang menyangkut kepentingan umat Islam dikalangan para pejuang Muslim sejak tahun 1900 hingga sekarang ini. Beliau bergerak pula di bidang pendidikan dengan menjadi rektor Al Azhar, dan peletak fondasinya di zaman modern.Bentuk-bentuk Islah yang dibawa oleh Said Jamaluddin Al Afghani antara lain :       Usaha untuk mengembalikan kecemerlangan umat Islam sebagaimana zaman Khulafah Ar Rasyidin        Membina perpaduan tanpa mengira bangsa dan budaya melalui gagasan beliau yaitu Al Jamiah Al Islamiah.        Mengkritik taklid Al A’ma (Bahasa Arab: تقليد الأعمى yang bermaksud mengikut sesuatu secara membabi buta) tanpa berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah.       Menyeru umat Islam agar kembali kepada ajaran Islam yang tulen serta sesuai dilaksanakan sepanjang masa dan tempat.        Menyadarkan umat Islam tentang keburukan fanatik kepada sesuatu mazhab yang membawa kepada pepecahan umat Islam sendiri.        Berpendapat agar umat Islam menumpukan perhatian kepada usaha-usaha memerdekakan tanah air dan pemikiran mereka dari penjajah.Ajaran-ajaran dari Said Jamaluddin Al Afghani lebih menganut ideologi fundamentalis dengan mengandung cita-cita kearah politik, sehingga banyak gerakan-gerakan yang dilakoninya, serta cita-cita filsafat, dengan ajarannya yang menentang taqlid buta umat Islam pada masanya. Dimana pergerakan ajaran-ajaran dan pemikirannya antara lain :

Ø     Ajaran Politik

Untuk dapat bergaul dengan orang-orang politik di Mesir, beliau masuk perkumpulan Freemansonry, yang anggotanya terdapat Putra Mahkota Tawfiq, dan bergabung membentuk Al Hizb Al Wathoni (Partai Nasional) dengan tujuan memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers dan pemasukan unsur-unsur Mesir dalam bidang militer. Slogan “Mesir untuk Mesir” mulai kedengaran. (Harun Nasution, 1991 : 52).

Ø     Ajaran tentang Takdir

Baginya takdir merupakan pokok dari ajaran Islam, tapi Muslimin telah salah menafsirkannya. Mereka menyangka bahwa takdir itu adalah ketentuan Tuhan yang memaksa manusia untuk menjalaninya (faham Jabariyah). Padahal sebenarnya takdir merupakan suatu ketentuan umum dari Tuhan dan segenap makhluk mempunyai kebebasan gerak dalam aturan tersebut.

Ø     Tentangan terhadap Materialisme

Beliau menulis Ar Ra’du Al Addahriyin yang ditulisnya sebelum faham Karl Marx dikenal oleh dunia. Di dalamnya menentang prinsip-prinsip materialisme yang naturalis, yang dikatakannya sangat merusak masayarakat, menyia-nyiakan jerih payah, membunuh cita-cita luhur dan meracuni jiwa sehingga manusia kehilangan martabatnya.

Ø     Ajaran Filsafat

Karena kekolotan umat Islam dalam segi politik dan pemahaman terhadap agama sehingga mereka tertinggal oleh dunia modern. Maka usahanya yang sangat agung ialah membuka selubung pikiran yang menutupi akal mereka dengan mengajarkan dan membolehkan ilmu filsafat/ menerima akal logika dalam menerapkan mengaplikasikan asal tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah, serta gagasan-gagasan filosofi-filosofi Islam lainnya. Dengan ajaran filsafatnya berarti beliau juga menolak tradisionalisme murni, selain westernisme.Reformasi ini adalah dalam rangka untuk mengembalikan kembali citra Islam di mata dunia, serta memberi dampak positif terhadap perkembangan Islam sesudahnya. (Muhammad Al Bahiy 1986 : 105 – 111)

Ø     Gerakan Refor­masi

Tertuang dalam beberapa sasaran dari diterbitkannya “Al Urwa Al Wustqa” di Paris bersama Muhammad Abduh yang meliputi di antaranya : pertama, se­nantiasa membantah tuduhan Barat yang ditujukan kepada timur khususnya orang-orang Islam dengan memutarbalikkan propaganda Barat yang menyatakan bahwa kaum muslimin tidak akan bangkit, selama mereka masih berpegang teguh pada agamanya. Kedua, memaparkan bagi orang-orang Timur realita dan rahasia-rahasia internasional, agar mereka tahu akan rencana-rencana politikus Eropa terhadap Islam. Sehigga, orang-orang Timur tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang mereka gembar-gemborkan. Ketiga, memperkuat hubungan antar umat Islam dan memberikan penjelasan tentang asas-asas solidaritas dengan mengikat kembali ide keislaman umat Islam/ menyatukan umat lslam dalam satu kesatuan cita yakni cita Islam, Pan-Islamisme dengan membangun, menggerakkan dan menghidupkan kesadaran akan kekuatan umat Islam yang potensial untuk menepis intervensi politik luar dan juga seruan untuk menggali khasanah ajaran agama serta menjauhi fanatisme kelompok atau golongan.

Ø     Idiologi-ideologi yang beliau tawarkan adalah agama sebagai balance umat yang di dalamnya terdapat kebahagiaan, kemenangan dan mobilisasi kehidupan. Sementara atheisme adalah bakteri keburukan, penyebab destruksi negara dan umat. Selain itu, dalam perjalanannya beliau sering menawarkan konsep musyawarah, demokrasi dan keadilan dalam pemerintahan.(http://indiez.net.co.nr/QalamCetak/tokoh/tokoh22.htm) 

3. Konsep Pemikiran

Konsep pemikiran dari ajaran-ajaran Said Jamaluddin Al Afghani antara lain :      Islam merupakan agama yang realistis yang sesuai dengan logis.      Merespon zaman harus dengan ijtihad.      Kemunduran Islam adalah karena umat Islam yang meninggalkan ajaran Islam sendiri, sehingga mereka bisa dirong-rong dan dihasut oleh kolonial Inggris.      Qodo dan qodar merupakan ketetapan Allah yang terjadi karena hubungan sebab musabab (penentang Jabariyah).      Keunduran yang bersifat politis adalah perpecahan.      Jalan terbaik adalah melepaskan pengertian yang salah terhadap Islam dengan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunah. 

B. Muhammad Abduh1. Riwayat Hidup

Muhammad Abduh (Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah) lahir pada 1849, tempatnya tidak diketahui karena situasi kekacauan yang terjadi pada saat pemerintahan Muhammad Ali. Kekasaran dan kekerasannya kaitannya dalam memungut pajak membuat rakyat hidup berpindah-pindah termasuk Abduh bin Hasan Khairullah, ayah Muhammad Abduh. Ibu Muhammad Abduh mempunyai silsilah kepada Khalifah Umar bin Khottob.Meskipun orang tuanya bukan orang terpelajar tapi memiliki rasa keagamaan yang kuat, sehingga mengarahkan Muhammad Abduh untuk belajar Al Qur’an. Dengan otaknya yang cemerlang pada usia 12 tahun sudah hafal Al Qur’an. Kemudian dikirim oleh orang tuanya ke Masjid Ahmadi di Thantha. Selama 2 tahun di sana beliau belum juga mengerti tentang pelajaran-pelajaran yang diajarkannya. Karena tidak puas, beliau ke rumah pamannya untuk bersembunyi. Setalah 3 bulan dipaksa kembali ke Thantha. Namun hatinya tetap menolak untuk kembali. Beliau berniat kembali ke desa menjadi petani. Bebrapa lama di desa, dipaksa orang tuanya untuk kembali ke Thantha. Lantas beliau membelokkan langkahnya ke rumah pamannya lagi. Di sini beliau bertemu Syeikh Darwish yang telah mengecap asam garam kehidupan dan ilmu pengetahuan, karena beliau telah kembali dari menuntut ilmu di Libia. Syeikh Darwish inilah yang menjinakkan kembali hati Muhammad Abduh kepada ilmu pengetahuan, beliaupun kembali ke Thantha.Tamat belajar di Thantha meneruskan kembali ke Al Azhar pada 1866 M, dan bertemu dengan Said Jamaluddin Al Afghani, yang memiliki kesan yang mendalam karena kupasan-kupasan beliau yang amat dalam disertai cara berfikirnya yang amat jenius di bawah sinar mata jernih dan berapi-api sehingga menimbulkan spirit bagi orang yang menaruh semangat perjuangan. Dari sinilah Muhammad Abduh mendapat ilmu pengetahuan modern seperti filsafat, sejarah dan hukum-hukum lain.Tamat studi di Al Azhar pada 1877, diangkat menjadi dosen Al Azhar. Atas prakarsa PM Mesir Riadh Pasya, beliau diangkat menjadi dosen perguruan tinggi Darul Ulum. Dalam menjalankan tugasnya beliau mengadakan perubahan-perubahan dalam pengembangan perguruan-perguruan tinggi Islam. Tapi karena adanya pergantian kekuasaan Mesir ke Taufiq Pasya (yang sangat anti pembaharuan, karena terpengaruh Inggris) Muhammad Abduh disingkirkan ke luar Kairo. Tapi setahun kemudian diterima kembali dan diangkat menjadi Redaktur surat kabar resmi pemerintahan Mesir : Al Waqoi’ul Misriyah.Pada 1882 terjadi pemberontakan di Mesir dibawah pimpinan Orabi Pasya, Inggris turun tangan, Orabi Pasya dijatuhkan. Muhammad Abduh yang memegang peranan penting pemberontakan memilih Beirut sebagai tempat pengasingan. Di sini beliau mendapat kesempatan mengembangakan fikirannya sebagai tenaga pengajar pada perguruan tinggi Sulthoniyah selama 1 tahun.Atas panggilan guru dan shahabatnya Said Jamaluddin Al Afghani yang pada saat itu di Paris, Abduh menyusul ke Paris, kemudian menerbitkan Al Urwah Al Wutsqo bersama. Setelah ditutup, beliau kembali ke Beirut, sampai akhirnya diperbolehkan kembali ke Mesir. Kemudian diangkat menjadi anggota Majlis Tinggi Al Azhar sekaligus kembali mengemukakan cita-citanya dalam perbaikan Al Azhar. Rencana tersebut mendapat sambutan baik dari pemerintahan. Namun, rintangan masih tetap ada terutama dari kelompok Reaksioner yang berfaham Jumud (statis). Pada 1899 diangkat pula memegang jabatan Mufti Mesir sampai beliau wafat pada 1905. (Muhammad Al Bahiy, 1986 : 112 – 116).   Beberapa jabatan penting yang pernah dijabatnya antara lain :       Guru di Masjid Al Husaini di Mesir;        Pensyarah di Darul ‘Ulum, Mesir;        Guru di Sekolah As Sultaniah, Beirut;        Ketua Editor Akhbar al-Waqa’i’a al-Misriyah (Bahasa Arab: الوقائع المصرية) di Mesir;        Ketua Hakim Mahkamah Rayuan di Mesir;        Anggota Majlis Pengurusan Universiti Al Azhar di Mesir;        Mufti kerajaan Mesir (1899 – 1905). (http://ms.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Abduh#Riwayat_Hidup_Syeikh_Muhammad_Abduh) 

2. Arah Perjuangan

Muhammad Abduh banyak mengambil inspirasi daripada Gerakan Islah yang dipelopori oleh Said Jamaluddin Al Afghani. Kesannya, beliau lebih bersikap terbuka dibanding sebelumnya.Abduh sangat membenci sikap taklid yang menghinggapi umat Islam saat itu, hal ini sebenarnya mulai beliau rasakan sejak menginjak Al Azhar, dimana di sana beliau mendapati terpolanya 2 pemahaman, yaitu kaum mayoritas yang penuh taqlid dan hanya mengajarkan kepada siswa-siswanya pendapat-pendapat ulama terdahulu dan untuk sekedar dihafal, sementara kaum minoritas adalah mereka yang suka akan pembaharuan Islam (pola Tajdid) yang mengarah pada penalaran dan pengembangan rasa. Abduh sangat peduli dengan pembebasan pemikiran kaum Muslim dari belenggu taqlid, dan mengaitkannya dengan sumber-sumber Islam yang jernih, sebagaimana ditegaskan sendiri tentang dirinya dan tujuan-tujuannya. “Suaraku lantang dalam melakukan dakwah kepada dua perkara yang besar”, Pertama, membebaskan pikiran umat dari belenggu taqlid (yang dianggap menghambat perkembangan pengetahuan umat Islam terhadap agamanya, sebagaimana halnya Salaf Al Ummah, yaitu sebelum terjadinya perpecahan, dengan cara memahami langsung dari sumber pokoknya, Al Qur’an saja), dan memahami ajaran agama melalui jalan ulama salaf sebelum munculnya berbagai perbedaan pendapat, serta menggali pengetahuan dengan kembali  kepada rujukan-rujukan utamanya, yaitu Al Qur’an dan Hadits. Disamping itu, pemahaman tersebut harus diletakkan dalam pertimbangan akal manusia yang telah diciptakan oleh Allah SWT untuk mengembalikan manusia dari kesesatan, dan mengurangi kesalahan, agar rahmat Allah SWT menjadi sempurna dalam menjaga tatanan hidup manusia. Dengan jalan ini, akal pikiran manusia dapat dianggap sebagai partner dalam ilmu pengetahuan, pendorong ke arah pengkajian rahasia-rahasia alam semesta, dan penyebab adanya penghargaan terhadap berbagai hakikat yang tidak berubah karena akal pikiran manusia dapat dituntut untuk memberikan pemecahan terhadap hakikat tersebut sehingga dapat dipergunakan untuk mendidik jiwa manusia dan memperbaiki amal perbuatan mereka.Muhammad Abduh juga menegaskan bahwa tidak cukup hanya kembali kepada ajaran-ajaran asli, namun karena zaman dan suasana umat Islam sekarang jauh berubah dan berbeda dari zaman dan suasana dan kondisi umat Islam zaman klasik, ajaran-ajaran itu perlu disesuaikan dengan keadaan modern sekarang. Untuk menyesuaikan dasar-dasar itu perlu diadakan interpretasi baru sehingga perlu dibuka pintu ijtihad yang disandarkan kepada Al Qur’an dan As Sunnah. (Harun Nasution, 1991 : 64)Kedua, memperbaiki gaya bahasa Arab (dalam pola penafsirannya). Beliau menilai kitab-kitab tafsir pada masanya dan masa-masa sebelumnya tidak lain kecuali pemaparan berbagai pendapat ulama yang saling berbeda dan pada akhirnya malah menjauh dari maksud dan tujuan Al Qur’an. Sebagian kitab-kitab tafsir itu sedemikian kering dan kaku karena penafsirnya hanya mengarahkan perhatian kepada pengertian kata-kata atau kedudukan kalimatnya dari segi i’rab dan penjelasan lain menyangkut segi teknis kebahasaan yang dikandung oleh redaksi ayat-ayat Al Qur’an. Oleh karena itu, kitab-kitab tafsir tersebut cenderung menjadi semacam latihan praktis dalam bidang bahasa bukan kitab tafsir yang sesungguhnya. Abduh berpendapat bahwa wahyu Al Qur’an menuntut pembuktian secara akal mengenai klaim-klaim yang disampaikannya. Beliau ingin agar Al Qur’an menjadi sumber yang kepadanya disandarkan semua madzhab dan pandangan keagamaan, bukannya madzhab tersebut menjadi pokok dan ayat-ayat Al Qur’an dijadikan pendukungnya.Dari sini Abduh menyatakan bahwa para pemikir Islam terdahulu telah berjasa dalam usaha mereka, tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus mendahulukan pendapat-pendapat mereka ketimbang petunjuk-petunjuk yang kita pahami dari ayat-ayat Al Qur’an. Abduh juga berpendapat bahwa antara wahyu dan akal tidak mungkin bertentangan dan karenanya beliau menggunakan akal secara luas untuk memahami, menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, baik yang menyangkut akidah maupun syariah.Ada hal lain yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya karena memang mereka dijauhkan darinya, padahal persoalan itu merupakan tiang penyangga kehidupan sosial mereka, sehingga tanpa tiang penyangga itu kehidupan sosial mereka akan lemah tak berdaya. Persoalan itu ialah pemisahan antara hak pemerintah untuk ditaati oleh rakyat dan hak rakyat untuk memperoleh keadilan dari pemerintah. Sesungguhnya, seorang penguasa, walaupun harus ditaati, tetapi beliau adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan dan dikalahkan oleh hawa nafsunya. Sementara itu, tidak ada sesuatu yang efektif dalam menghentikan kesalahan dan kesewenang-wenangannya selain dari nasihat umat kepadanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Kita harus berani menyuarakan hati kita dengan lantang untuk menghadapi kediktatoran dan kezaliman disaat semua orang menjadi tak berdaya menghadapinya.Abu Rayyah menulis bahwa Abduh berpendapat : kaum Muslimin dewasa ini tidak memiliki Imam kecuali Al Qur’an. Dari sini bisa dipahami mengapa Abduh tidak menghiraukan segi-segi ma’tsur (riwayat), tidak pula memperhatikan cara pentakhrijan serta sejarah yang menyangkut ayat-ayat Al Qur’an. Karenanya tidak heran bila banyak hadits-hadits yang dianggap shahih sejumlah ulama malah ditolak dan diabaikan oleh beliau karena dianggap tidak sesuai dengan pemikiran logis atau tidak sejalan dengan ayat-ayat Al Qur’an. Sebaliknya, ada juga hadits atau riwayat yang oleh ulama dinilai lemah justru dikukuhkan oleh Abduh karena kandungannya sejalan dengan pemikiran logis.Metode yang ditempuh oleh Muhammad Abduh dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, diikuti oleh sekian banyak mufasir sesudahnya seperti Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad dan Ahmad Musthafa Al Maraghi, Abdullah Daraz, Abdul Jalil Isa dan sebagainya, meskipun mereka-mereka ini tidak sepenuhnya sama dengan yang ditempuh oleh Abduh.Mirip dengan yang dikatakan Said Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh beranggapan bahwa Eropa bagaimanapun harus dilawan karena mereka adalah agresor yang ingin merebut negeri bangsa lain. Orang Mesir menderita karena tidak membedakan mana yang menipu dan mana yang tulus, mana yang benar dan mana yang berdusta. Untuk memulai pembaruan, menurut Abduh kita perlu kembali kepada pokok-pokok iman yang dipandang sebagai Islam yang sebenarnya oleh berbagai mazhab, berbagai kelompok. Beliau menyerukan agar digunakan tradisi yang terbaik dan agar taqlid buta dikutuk, karena merintangi kemajuan. Abduh membuat tafsir Al Qur’an, karena baginya prinsip yang menjadi dasar dari kebangkitan bangsa merupakan kepercayaan pokok bahwa risalah Al Qur’an bersifat universal dan meliputi segalanya. Beliau juga concent dengan isu pendidikan dengan mengkritik sekolah modern yang didirikan oleh misionaris asing dan juga mengkritik sekolah yang didirkan pemerintah. Menurutnya, di sekolah misionaris siswa dipaksa mempelajari Kristen sedangkan di sekolah pemerintah sisiwa tidak diajar agama sama sekali.Menyadari kemunduruan masyarakat Muslim bila dikontraskan dengan masyarakat Eropa, menurut analisisnya, kondisi lemah dan terbelakang ini disebabkan oleh hegemoni Eropa yang mengancam eksistensi masyarakat Muslim dan juga oleh realitas internal seperti situasi yang diciptakan oleh kaum Muslim sendiri, yang bisa menjadi ’santapan’ oleh bangsa Barat.Kemauannya yang keras untuk melaksanakan pembaharuan dalam Islam dan menempatkan Islam secara harmonis dengan tuntutan zaman modern dengan cara kembali kepada kemurnian Islam mendorongnya untuk mengkaji kembali masalah-masalah keagamaan dan menuliskannya, sehingga karenanya terangkatlah namanya sebagai bapak peletak aliran modern dalam Islam.Dan terangkumlah dalam ajaran-ajarannya, selain membawa ajaran seperti Said Jamaluddin Al Afghani, beliau juga termasuk tokoh yang paling komprehensif yaitu hampir semua bidang beliau kuasai. Diantara pergerakan ajaran-ajaran dan pemikirannya antara lain :

Ø     Bidang Pendidikan

Usaha membuka pintu ijtihad dimulainya pada sistem pendidikan dan pengajaran, sebab dengan terbukanya belenggu para pelajar, akan disiapakan kader-kader intelektual untuk mengkaji kembali ajaran-ajaran agamanya dengan interpretasi baru agar interpertasi terhadap Al Qur’an tetap terjaga sehingga perlu dibukanya pintu ijtihad, ajaran-ajaran agama murni dan merdeka sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu beliau juga mengganti metode mengajar dengan metode analisa yang mendalam tidak hanya metode hafalan yang sangat terbelakang yang selama ini diterapkan.

Ø     Akidah (Membuka Pintu Ijtihad)

Muhammad Abduh menyeru umat Islam agar kembali kepada ajaran sebenar dalam bentuk yang asal dan murni serta menyesuaikannya dengan kehendak semasa. Syaratnya, ia tidak boleh bertentangan dengan kehendak Al Qur’an dan As Sunnah. Beliau menolak sekeras-kerasnya konsep Taqlid Al A’Muhammad Abduh atau taklid buta. Beliau mengajak umat Islam mempelajari ilmu-ilmu Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah untuk membina umat yang mempunyai daya fikir yang tinggi dan seterusnya mampu keluar daripada belenggu penjajahan. Penalaran tidaklah menjadi perhatian sehingga bekulah akal. Situasi dan kondisi tidaklah menjadi perhatian sama sekali, yang tahu masalah keagamaan hanyalah mufti dan hakim-hakim. Sehingga jasanya yang tidak dapat diabaikan ialah meruntuhkan tembok pembendung filsafat dengan idenya untuk membuka kembali pintu ijtihad yang tertutup rapi oleh kestatisan pemikiran umat Islam sendiri, dengan mengembalikan cara pemahaman yang benar terhadap ajaran agama. Dimana agama tidaklah bertentangan dengan rasio. Pertentangan yang terjadi antara agama dan rasio pada hakikatnya adalah pertentangan interpretasi kaum agama dengan realitas ilmu pengetahuan. Jadi pertentangan itu bukanlah pertentangan yang hakiki dari ajaran agama dengan ilmu. Dalam mengharmonisasikan perjalanan agama dan ilmu pengetahuan diperlukan interpretasi baru dalam pemahaman ajaran agama. Untuk dapat melakukan interpretasi baru tersebut perlu dibukanya pintu ijtihad. (Muhammad Al Bahiy).

Ø     Ajaran Politik

Mengikat kembali ide keislaman umat Islam/ menyatukan umat lslam dalam satu kesatuan cita yakni cita Islam, Pan-Islamisme, dengan meningkatkan solidaritas, membangun, menggerakkan dan menghidupkan kesadaran akan kekuatan umat Islam yang potensial.

Ø     Ajaran Filsafat

Meruntuhkan tembok pembendung filsafat yang dianggap momok yang menakutkan dan dipandang haram mempelajarinya oleh beberapa ulama terdahulu. Sehingga Al Azhar tidak mengajarkan filsafat dan logika. Mereka hanya mendapatkan metode pengajaran hanya dengan cara hafalan. Karena kekolotan umat Islam dalam segi politik dan pemahaman terhadap agama sehingga mereka tertinggal oleh dunia modern. Maka usahanya yang sangat agung ialah membuka selubung fikiran yang menutupi akal mereka dengan mengajarkan dan membolehkan ilmu filsafat/ menerima akal logika asal tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah, serta gagasan-gagasan filosofi-filosofi Islam lainnya. Dengan ajaran filsafatnya berarti beliau juga menolak tradisionalisme murni, selain westernisme. Reformasi ini adalah dalam rangka untuk mengembalikan kembali citra Islam di mata dunia, serta memberi dampak positif terhadap perkembangan Islam sesudahnya.

Ø     Integrasi Ilmu

Syeikh Muhammad Abduh mendapati sistem pendidikan pada masa itu hanya tertumpu kepada bidang-bidang agama dalam bentuk uraian kitab-kitab klasik tanpa disesuaikan dengan perkembangan zaman.Beliau mengkritik dengan katanya :  “Aku sangka pengajian seperti ini hanya berlaku di Tanta saja, tetapi juga berlaku di Al Azhar. Aku dapati 95 % pelajarnya tidak dapat bertahan lebih lama dengan corak pengajaran seperti ini. Para guru mengajar apa yang dia faham ilmu itu tanpa mengira kemampuan pemahaman seseorang pelajar. Mereka menyangka pelajar telah paham, sedangkan sebenarnya mereka tidak paham.”

Ø     Kecekapan Pentadbiran

Ketika Syeikh Muhammad Abduh bertugas sebagai Hakim di Mahkamah Rayuan Mesir, beliau mendapati kepincangan dalam sistem pentadbiran kehakiman. Beliau berpendapat ia tidak sistematik dan perlu dengan pengislahan. Pengislahan yang dilakukan dimuatkan di dalam karyanya yang berjudul At Tahrir Fi Islah Al Mahakim As Syar’iyyah.

Ø     Bidang Pendidikan

Ide-ide yang dibawa oleh Muhammad Abduh telah mengubah pandangan umat Islam terhadap Islam yang terbawa dengan sebagian sarjana Muslim yang jumud dan pasif. Muhammad Abduh berjaya memberi gambaran yang jelas tentang keperluan umat Islam kepada Islah, khususnya dalam bidang pendidikan. Ide Islah Muhammad Abduh dalam bidang pendidikan, khususnya di Universiti Al Azhar telah memberi kesan yang mendalam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umat Islam antara lain :       Mewujudkan mata pelajaran matematik, geometri, algebra, geografi, sejarah dan seni khat;        Mewujudkan piawaian dalam penganugerahan sijil;        Mewujudkan farmasi khusus untuk pelajar Universiti Al Azhar;        Menyediakan gaji guru dari perbendaharaan negara dan waqaf negara;        Memperbaiki asrama pelajar dengan menekankan aspek-aspek keselamatan dan kesehatan. (http://ms.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Abduh#Metode_Islah_Syeikh_Muhammad_Abduh)Ø     Bidang KetatanegaraanMuhammad Abduh berpendapat bahwa kekuasaan negara harus dibatasi. Dan usahanya pada masa itu tertuju pada membangkitkan kesadaran rakyat akan hak-hak mereka. Dimana pemerintah harus bersikap adil terhadap rakyat dan terhadap pemerintahan, rakyat harus patuh dan setia. (Harun Nasution, 1991 : 68) 

3. Konsep Pemikiran

Dari sekian banyak tokoh-tokoh ulama sebelumnya, Muhammad Abduh lah yang dianggap paling komprehensif, karena beliau hampir menguasai seluruh bidang kehidupan dibandingkan dari pada masa ulama-ulama sebelumnya. Seperti Konsep pemikiran dari ajaran-ajaran Said Jamaluddin Al Afghani antara lain :      Islam merupakan agama yang realistis yang sesuai dengan logis.      Merespon zaman harus dengan ijtihad. Logika adalah prasyarat pembaharuan.      Menekuni Islam dengan logika antara agama dan pemikiran harus harmonis.      Kemunduran Islam adalah karena umat Islam yang meninggalkan ajaran Islam sendiri, sehingga mereka bisa dirong-rong dan dihasut oleh kolonial Inggris.      Qodo dan qodar merupakan ketetapan Allah yang terjadi karena hubungan sebab musabab (penentang Jabariyah).      Kemunduran yang bersifat politis adalah perpecahan.      Jalan terbaik adalah melepaskan pengertian yang salah terhadap Islam dengan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunah.

BAB III PENUTUP 

Mencuatnya keberadaan Said Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh terkait dengan kondisi lemah dan terbelakangnya kaum Muslim yang disebabkan oleh hegemoni Eropa yang mengancam eksistensi masyarakat Muslim dan juga oleh realitas internal seperti situasi yang diciptakan oleh kaum Muslim sendiri, yang bisa menjadi ’santapan’ oleh bangsa Barat.Muhammad Abduh memperoleh pendidikan agama secara tradisional yang kemudian disempurnakan berkat hubungannya dengan Said Jamaluddin Al Afghani. Baik Said Jamaluddin Al Afghani maupun Muhammad Abduh memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan Westernisme, serta mengemukakan gagasan yang berasal dari filosofi-filosofi Islam serta arah perjuangannya mereka kaitannya dengan kepedulian terhadap pembebasan pemikiran kaum Muslim dari belenggu taqlid buta karena akan merintangi kemajuan, serta menggali pengetahuan dengan kembali kepada rujukan-rujukan utamanya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, dan agar digunakan tradisi yang terbaik. Kemudian membangun, menyadarkan persatuan dan kesatuan serta kekuatan Muslim yang sangat potensial untuk menangkal kolonialisme, mengingatkan akan solidaritas dan menyadarkan mereka bahwa umat Islam adalah satu, memiliki kiblat, aqidah, arah dan tujuan hidup yang satu pula, mengajarkan ajaran-ajaran tentang filsafat dan menggunakan akal logika -walaupun pada saat itu masih dianggap haram oleh ulama-ulama sebelumnya- asalkan tidak bertentangan dengan hukum Islam, Al Qur’an dan As Sunah dan mengaitkannya dengan sumber-sumber Islam yang jernih.Perjalanan yang panjang dalam hidup Said Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh dilalui dengan berdakwah di banyak negara. Penekanannya bahwa Islam merupakan satu kesatuan dan memiliki kekuatan yang sangat penting untuk menangkal Barat dan untuk meningkatkan solidaritas kaum Muslim, seruannya agar ada pembaruan dan perubahan di dalam sistem politik Despotis yang berbendera Islam, serta serangannya terhadap mereka yang memihak Imperialisme Barat atau yang memecah belah umat Muslim, semuanya merupakan tema-tema yang diperjuangkannya. Selain itu Muhammad Abduh juga membuat tafsir Al Qur’an, karena baginya prinsip yang menjadi dasar dari kebangkitan bangsa merupakan kepercayaan pokok bahwa risalah Al Qur’an bersifat universal dan meliputi segalanya. Beliau juga menyatakan bahwa para pemikir Islam terdahulu telah berjasa dalam usaha mereka, namun dari itu, tidak berarti bahwa kita harus mendahulukan pendapat-pendapat mereka ketimbang petunjuk-petunjuk yang kita pahami dari ayat-ayat Al Qur’an, sehingga antara wahyu dan akal tidak mungkin bertentangan dan karenanya beliau menggunakan akal secara luas untuk memahami, menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, baik yang menyangkut akidah maupun syariah. 

KESIMPULAN 

Ø      Al Qur’an berbicara tidak hanya kepada hati manusia, tapi juga kepada akalnya. Islam memandang akal mempunyai kedudukan tinggi. Oleh karena itu, Islam adalah agama yang rasional. Mempergunakan akal adalah salah satu dari dasar-dasar Islam. Iman seseorang tidak sempurna kalau tidak didasarkan pada akal.

Ø      Islam adalah agama yang paling rasional

Ø      Bagi Muhammad Abduh akal mempunyai kedudukan yang tinggi karena untuk menginterpretasikan Al Qur’an diperlukan interpretasi baru untuk pengembangannya agar tidak bertentangan dengan akal, sehingga haruslah mencari interpretasi baru yang membuat ayat itu sesuai dengan akal. Kekuatan akal adalah dasar peradaban suatu bangsa, tak terlepas dari kemajuan bangsa dan akallah yang menimbulkan ilmu pengetahuan. (Harun Nasution, 1991 : 65).

Ø      Semua kekayaan dan harta merupakan hasil dari kemajuan ilmu. Tidak ada kekayaan apapun di dunia ini tanpa ilmu, dan tidak ada harta di dunia ini selain ilmu ilmu itu. (John J. Donohue, dkk., 1995 : 18)

Ø      Melihat sedemikian besar kegiatan poitik yang demikian besar di daerah yang demikian luas, maka tak salah kalau beliu dikatakan lebih banyak bersifat pemimpin politik dari pada pemimpin dan pemikir pembaharuan dalam Islam, yang didasarkan pada ide-ide tentang pembaharuan dalam Islam. Jadi pemimpin pembaharuan sekaligus pemimpin politik. Dengan pemikiran pembaharuannya berdasar atas keyakinan bahwa Islam adalah yang sesuai untuk semua bangsa, zaman dan semua keadaan. (Harun Nasution, 1991 : 54).

Wallahu a’lam…Kepada Allahlah segala urusan dikembalikan (Q.S. 22 : 41)   

DAFTAR PUSTAKA  

ü      Al Bahiy, Muhammad. 1986. Pemikiran Islam Modern. Jakarta : Pustak Panji Mas

ü      Donohue, John J., John L. Esposito. 1995. Islam dan Pembaharuan : Ensiklopedia Masalah-masalah. Jakarta : PT. Grafindo Persada

ü      http://abatasya.net/tokoh-islam/tokoh-islam-dunia/jamaluddin-al-afghani.html

ü     http://ms.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Abduh#Riwayat_Hidup_Syeikh_Muhammad_Abduh

ü      http://indiez.net.co.nr/QalamCetak/tokoh/tokoh22.htm

ü      http://ms.wikipedia.org/wiki/Sayid_Jamaluddin_al-Afghani#Riwayat_Hidup_Sayid_Jamaluddin_al-Afghani

ü      Nasution, Prof. Dr. Harun. 1991. Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta : PT. Bulan Bintang  

Alhamdulillaahirobbil ‘alamiin

Bergabung dengan Freemasonry

Freemasonry memang merupakan organisasi rahasia, agak mirip tarekat dengan ritual dan ajaran yang tak boleh dijelaskan kepada orang luar, tetapi menegaskan nilai humanisme (kemanusiaan) ketimbang nilai religius tradisional. Didirikan di London pada 1717, Freemasonry dengan cepat tersebar di negara-negara Eropa dan telah menjadi musuh bebuyutan Gereja Katolik. Sejumlah pemikir, politisi dan seniman paling terkemuka telah masuk Freemasonry: Goethe, Kant dan Hegel di Jerman, Mozart dan Haydn di Austria, Voltaire, Rousseau dan Diderot di Perancis, George Washington dan Benjamin Franklin di Amerika. Pada abad ke-19, Freemasonry oleh kawan maupun lawannya dikaitkan dengan ide-ide Revolusi Perancis dan dengan kemodernan. Tidak terlalu mengherankan jika Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad `Abduh menjadi anggota Freemasonry sewaktu keduanya berada di Perancis. Sebagai organisasi, Freemasonry tidak mempunyai hubungan khusus dengan keyahudian. Di antara anggotanya memang dijumpai sejumlah orang Yahudi, namun mereka relatif sedikit.[2] Kebetulan saja keduanya telah menjadi simbol dari semua perubahan yang mengancam dunia tradisional. “Freedom and Liberation” Tokoh-tokoh CUP juga berkolaborasi dengan Freemansonry di Turki.  Menurut Dr. Sukru Hanioglu, dosen Universitas Islambul, saat itu  aktivis Freemansonry memiliki hubungan erat dengan kelompok ‘The  Ottoman Freedom Society ‘(Osmanli Hurriet Cemiyati) yang dibentuk  tahun 1906. Tokoh Freemanson, Celanthi Scalieri, adalah pendiri loji  ‘The Lights of the East’ (Envar-I Sarkiye) yang beranggotakan  sejumlah politisi, jurnalis, dan agamawan terkemuka (seperti Ali  Sefkati, pemimpin redaksi Koran Istiqlal, dan Pangeran Muhammad Ali  Halim, pemimpin Freemansonry Mesir).  Di sinilah nucleus faksi Turki Muda lahir. Gagasan utamanya mengelaborasikan kata Freedom (kemerdekaan’kebebasan) dan Liberation  (pembebasan). Gerakan Scalieri mendapat dukungan sejumlah negara kuat , terutama Inggris. Itu bias dipahami, karena sejak ratusan tahun , Utsmani dianggap sebagai ancaman bagi Kristen Barat. Pengaruh Freemansonry terhadap gerakan liberal dan kebebasan Turki sangat  kuat, sehingga Sukltan pun tidak berdaya. Gerakan pembebasan di Turki ini mendapat inspirasi kuat dari dua peristiwa besar, yaitu Revolusi Prancis dan kemerdekaan Amerika  Serikat. ‘A New Encyclopebeliauof Fremansonry’ (1996) mencatat bahwa George Washington, Thomas Jefferson, John Hancoc, dan Benjamin  Franklin adalah aktivis Freemansonry. Begitu juga tokoh gerakan pembebasan Amerika Latin, Simon Bolivar, dan Jose Rizal di Filipina. Ide pokok Freemansonry adalah “Liberty, Egality and Fraternity”. Di bawah jargon inilah, jutaan orang “tertarik” untuk melakukan apa yang  disebut sebagai “kemerdekaan sejati bagi seluruh rakyat dari tirani  politik maupun tirani sistem kerohanian”.Tampaknya waktu itu Sultan Abdul Hamid II diposisikan sebagai “kekuatan tiran”. Dalam konteks gerakan pembebasan pemikiran, yang  diposisikan sebagai tirani sistem kerohanian adalah “teks-teks  Al Qur’an dan Sunnah”, juga khazanah-khazanah Islam klasik karya ulama  Islam terkemuka. Masih ditelusuri lebih jauh, seberapa jauh hubungan antara gerakan liberal dalam konteks pemikiran Islam dengan gerakan  Freemasonry. Yang jelas, Rene Guenon , guru ‘Frithjof Schuon’ ( pelopor gagasan pluralisme) misalnya, adalah aktivis Freemasonry.  Dalam hal penafsiran, Abduh banyak berbeda dengan penafsiran tradisional, misalnya mengenai kata layalin ‘asyr (al-Fajr : 2), beliau menolak menafsirkan kata tersebut sesuai pemahaman ulama-ulama diawal tahun hijriah., lalu menyangkut kata Asyqa dan atqa pada surah al-Lail ayat 15 dan 18 (yang mendapat kritikan dari as-Suyuthi).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: